PROPOSAL
GERAKAN SOSIAL
”konflik Sosial HKTI yang mengenai
anjloknya harga gabah”
OLEH:
Ansori(064564208)
Handy Setyo(064564216)
Rahman danang jaya(064564209)
Heru Dwi setyawan
Dosen :
Bpk sadewo
PROGRAM STUDI SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2008
1.Latar belakang Masalah
Peranan Organisasi tani telah membuktikan adanya kekuatan yang bisa diorganisasi untuk mendukung hak-hak petani. Organisasi ini dapat berfungsi apabila terbina dengan baik. Organisasi yang kuat dapat tumbuh dari bawah sehingga mulai dari pembentukannya, persyaratan keanggotanya, komposisi pimpinannya, penyusun progam dan operasionalnya sepenuhnya mencerminkan kehendak yang nyata dari anggota organisasi yang bersangkutan.
Yang seperti petani HKTI( Himpunan Kerukunan petani Indonesia) di jombang, di tiga kecamatan, Megaluh, Tembelang dan Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang tak mendapat perhatian serius dari beberapa instansi dan lembaga terkait. Tak pelak, hearing yang sempat dilakukan beberapa waktu lalu antara Bulog, elemen masyarakat dan Komisi B DPRD setempat, berakhir tanpa titik temu.
Respon yang didapat dalam pertemuan di ruang rapat Komisi B tersebut hanya menghasilkan jawaban yang sifatnya hanya menyejukkan tanpa adanya solusi konkret dari permasalah di tingkat petani tersebut. Harga jual gabah yang turun drastis tersebut sangat berbeda jauh dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang sudah ditetapkan.
Berdasar HPP tahun 2007, harga Gabah Kering Panen (GKP) ditingkat petani dengan kadar air 25 % dan kadar hampa 10 % dihargai Rp 2.000/kg per kg dan Rp 2.035/kg di penggilingan. Harga Gabah Kering Giling (GKG) di penggilingan dengan kadar air 14 % dan kadar hampa 3 % harganya Rp 2.575/kg dan Rp 2.600/kg adalah harga di gudang Bulog.
anjloknya harga jual gabah di bawah ketentuan pemerintah pada awal musim panen ini harus disikapi secara cepat oleh pemerintah. Menurutnya, reaksi cepat yang dilakukan pemerintah akan dapat menolong petani untuk bisa mendapatkan harga jual gabah secara layak.
Komisi B DPRD Kabupaten Jombang, Bulog Divisi Regional Surabaya, Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan (Dispertan) dan Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) setempat menilai, kinerja Badan Urusan Logistik (Bulog) kurang maksimal.
”Ini akibat lemahnya sinergitas dengan lembaga terkait. Di Inpres nomor 03/2007, tentang HPP kan sudah diamanatkan agar ada pengamanan harga, dan instrumennya adalah Bulog ! Saat ini, Bulog tidak efektif melakukan intervensi pasar,” sesal alumni Politeknik Pertanian Universitas Negeri Jember ini blak-blakan.
Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Sadarestuwati mengatakan, anjloknya harga gabah di bawah ketentuan pemerintah itu disebabkan oleh ketidakmampuan petani menghasilkan padi berkualitas. Ia menyebut, dibanding daerah lain di Jawa Timur, kualitas padi dari Kabupaten Jombang sangat memprihatinkan.
Rumusan Masalah
1.Bagaimana terjadinya konflik sosial dalam HKTI di jombang dan mengapa bisa terjadi.
2. Apa yang menyebabkan konflik HKTI di jombang?
3. Apa tanggapan DPRD jombang?
Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini antara lain untuk memperkaya ilmu tentang gerakan HKTI(Himpunan Kerukunan Tani Indonesia) dan mencari pengalaman dalam pembelajaran Di suatu Gerakan Sosial.
Tujuan penelitian
Ingin mengetahui adanya konflik di dalam Organisasi HKTI,karena waaupun sudah dibentuk HKTI tetapi masi ada konflik di dalamnya.
BAB II
Teori Konflik
teori konflik yang menekankan pada keteraturan social, teori konflik melihat pada pertikaian dan konflik dalam sistem social. Teori konflik melihat apa pun keteraturan yang terdapat daam masyarakat berasal dari pemaksaan terhadap anggotanya oleh mereka yang berada di atas. Jadi lebih melihat pada peran kekuasaan dalam mempertahankan ketertiban dalam masyarakat.
Teori Konflik Coser
Konflik menurut teori Lewis A. Coser adalah perselisihan mengenai nilai-nilai atau tuntutan-tuntutan yang berkenaan dengan status kuasa dan sumber-sumber kekayaan yang persediaannya tidak mencukupi, di mana pihak-pihak yang sedang berselisih tidak hanya bermaksud untuk memperoleh barang yang diinginkan, melainkan juga memojokkan, merugikan atau menghancurkan lawan mereka. Dikatakan pula oleh Coser, bahwa perselisihan atau konflik dapat berlangsung antara individu dengan kumpulan-kumpulan (collectivities) atau antara individu-individu dengan kelompok.
Menurut Dahrendorf masyarakat disatukan oleh “ketidakbebasan yang dipaksakan”.Dengan demikian posisi tertentu dalam masyarakat mendelegasikan kekuasaan dan otoritas terhadap posisi yang lain. Hal ini mengarahkan Dahrendorf bahwa perbedaan otoritas selalu menjadi factor yang menentukan konflik social.
Bahwa berbagai posisi di dalam masyarakat mempunyai kualitas otoritas yang berbeda. Dan otoritas tidak terletak pada diri individu tetapi pada posisi. Otoritas dalam setiap asosiasi bersifat dikotomi, karena itu hanya ada dua kelompok konflik yang terbentuk yaitu kelompok pemegang otoritas dan kelompok subordinat yang mempunyai kepentingan tertentu.yang arah substansinya saling bertentangan.
Menurut penahapan konflik (fisher,2000)
tahapan konflik, dan dalam bahasan ini akan dikaitkan dengan strategiperlawanan petani. Pada tahap pertama, Prakonflik, terjadi ketidaksesuaian antara dua pihak yang berkonflik, dan muncul tidak senang serta emosi. Pada tahap ini, pihak yang tertindas diasumsikan masih mampu meredam perlawanannya,sehingga bentuk resistensinnya dapat berupa strategi perlawanan sehari-hari.
. Fisher(2000) menjelaskan tentang penahapan kasus konflik yangdiurutkan menjadi empat tahapan, yaitu:
a. Prakonflik : tahapawal terjadinya konflik, adanya ketidaksesuaian sasaran diantara pihak-pihakyang berkonflik, misalnya memunculkan sikap tidak senang dan emosi.
b. Konfrontasi :konflik semakin terbuka disertai aksi-aksi kekerasan tingkat rendah, misalnyamenyusun kekuatan.
c. Krisis : aksi-aksikekerasan meningkat menyerupai periode perang, misal menyandera.
d. Akibat : aksikekerasan menurun, ditandai oleh adanya negosiasi atau usaha untuk mengentikankonflik, misal satu pihak mundur akibat perlawanan yang tidak seimbang, tidakada negosiasi.
e. Pascakonflik :upaya pihak-pihak berkonflik untuk mengakhiri berbagai aksi kekerasan.
Teori strukturasi Giddens (1984) pada dasarnya merupakan bangunan kerangka ontologis dalam melakukan kajian-kajian terhadap tindakan-tindakan manusia, termasuk gerakan sosial. Teori ini menawarkan pemikiran tentang hakekat tindakan-tindakan manusia dan lembaga-lembaga sosial serta hubungan antara tindakan dengan lembaga-lembaga sosial. Dimunculkan konsep duality of structure (dualitas struktur) yang sekaligus merupakan kata kunci dan inti dari teori ini. Diyakini bahwa antara obyek dengan subyek, antara struktur dan agen bukanlah sebuah dualisme yang dikotomik, melainkan dualitas di mana antara satu dengan yang lain terdapat hubungan dialektik untuk kemudian saling mempengaruhi. Di dalamnya terdapat hubungan dialektik untuk proses produksi dan reproduksi dalam waktu yang sama.
Menurut Giddens, struktur berada pada posisi sebagai sebuah medium yang sekaligus juga outcomes (hasil) suatu agensi. Kemudian, struktur-struktur selain dapat muncul sebagai constraining, juga dapat mewujud sebagai enabling. Dalam pandangan Giddens, struktur dimaknakan sebagai generative rules and resources.
BAB IIIMETODE PENELITIAN
A.Sifat Penelitian
Penelitian ini bersifat kualitatif dan paradigma yang dipakai adalah paradigma gerakan sosial di jombang. Sifat kualitatif dari penelitian dikarenakan makna tentang hal yang diteliti hanya dapat didekati dengan mendengarkan dan memahami apa yang dikatakan dan dilakukan oleh subyekpenelitan.Pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini adalah pendekatan fenomenologis.
Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi, yakni peneliti berusaha memahami makna dari peristiwa atau fenomena yang terjadi dalam masyarakat dan suatu hal yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat. Untuk memahami apa dan bagaiamana suatu peristiwa tersebut dapat tumbuh dan berkembang dalam dunia sosial. Tujuan fenomenologi adalah untuk dapat mengambarkan perilaku-perilaku yang dilakukan oleh masyarakat dalam kehidupannya.
BWaktu dan Lokasi Penelitian
Waktu penelitian di jombang sekretariat HKTI pada bulan agustus-saat ini.
C.Subyek penelitian
Guncangnya Para petani karena anjloknya harga gabah.
D.Teknik Pengumpulan Data
1.Observasi
Dalam penelitian ini diperlukan observasi. Observasi adalah pengamatan yang dilakukan penelitian terhadap subjek penelitian. Dalam melakukan pengamatan dilapangan, akan didapatkan data yang mungkin diperoleh melalui wawancara. Dalam hal ini penelitian mencoba mengamati perilaku dari subjek. Penelitian baik secara individu ataupun pada saat mereka berkumpul di organisasi tersebut.
2.Wawancara Mendalam ( Indeepht Interview )Wawancara mendalam merupakan wawancara untuk mendapatkan data dan informasi yang diperlukan dalam suatu penelitian dan diharapkan bisa mengenai pada masalah yang akan diteliti agar memperoleh kedalam, kekayaan dan kompleksitas data.
Dalam memperoleh informasi yang dibutuhkan, peneliti menggunakan Guiding Question ( pedoman wawancara ) yang selalu dibawa pada saat mewawancarai subjek penelitian. langkah-langkah dalam melakukan In-depth interview, antara lain:
1.getting in, berupa adaptasi peneliti agar bisa diterima dengan baik oleh subyek penelitian.2.setelah trust terbentuk, peneliti harus menjaganya dengan berperilaku dan berpenampilan sama seperti subjek penelitian.Jika kedua hal tersebut dapat berjalan baik, maka akan tercipta rapport dari subjek penelitian, sehingga informasi-informasi dengan mudah diperoleh.3.agar lebih mudah mewawancarai subyek penelitian, peneliti akan mencari key informan atau informan kunci untuk memperoleh informasi. Dari key informan ini diharapkan akan diperoleh informan lain yang juga dapat memberikan informasi yang dibutuhkan peneliti (snawball sampling).
E. Teknik Analisis Data Analisis Data merupakan mengatur, mengorganisasikanya kedalam suatu pola, kategori dan satuan uraian data. Langkah pertama pengolahan data adalah data yang telah terkumpul baik data observasi maupun data wawancara kemudian dipisah menentukan data mana yang akan digunakan mengkategorikan data-data yang telah dipilah untuk digunakan dalam setiap bahasan,melakukan reduksi data, yaitu dengan membuat rangkuman dari hasil observasi dan wawancara.
Daftar Pustaka
Ekonomi Petani dan Negara Bangsa Redfield, Robert.
Bpk sadewo
PROGRAM STUDI SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2008
1.Latar belakang Masalah
Peranan Organisasi tani telah membuktikan adanya kekuatan yang bisa diorganisasi untuk mendukung hak-hak petani. Organisasi ini dapat berfungsi apabila terbina dengan baik. Organisasi yang kuat dapat tumbuh dari bawah sehingga mulai dari pembentukannya, persyaratan keanggotanya, komposisi pimpinannya, penyusun progam dan operasionalnya sepenuhnya mencerminkan kehendak yang nyata dari anggota organisasi yang bersangkutan.
Yang seperti petani HKTI( Himpunan Kerukunan petani Indonesia) di jombang, di tiga kecamatan, Megaluh, Tembelang dan Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang tak mendapat perhatian serius dari beberapa instansi dan lembaga terkait. Tak pelak, hearing yang sempat dilakukan beberapa waktu lalu antara Bulog, elemen masyarakat dan Komisi B DPRD setempat, berakhir tanpa titik temu.
Respon yang didapat dalam pertemuan di ruang rapat Komisi B tersebut hanya menghasilkan jawaban yang sifatnya hanya menyejukkan tanpa adanya solusi konkret dari permasalah di tingkat petani tersebut. Harga jual gabah yang turun drastis tersebut sangat berbeda jauh dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang sudah ditetapkan.
Berdasar HPP tahun 2007, harga Gabah Kering Panen (GKP) ditingkat petani dengan kadar air 25 % dan kadar hampa 10 % dihargai Rp 2.000/kg per kg dan Rp 2.035/kg di penggilingan. Harga Gabah Kering Giling (GKG) di penggilingan dengan kadar air 14 % dan kadar hampa 3 % harganya Rp 2.575/kg dan Rp 2.600/kg adalah harga di gudang Bulog.
anjloknya harga jual gabah di bawah ketentuan pemerintah pada awal musim panen ini harus disikapi secara cepat oleh pemerintah. Menurutnya, reaksi cepat yang dilakukan pemerintah akan dapat menolong petani untuk bisa mendapatkan harga jual gabah secara layak.
Komisi B DPRD Kabupaten Jombang, Bulog Divisi Regional Surabaya, Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan (Dispertan) dan Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) setempat menilai, kinerja Badan Urusan Logistik (Bulog) kurang maksimal.
”Ini akibat lemahnya sinergitas dengan lembaga terkait. Di Inpres nomor 03/2007, tentang HPP kan sudah diamanatkan agar ada pengamanan harga, dan instrumennya adalah Bulog ! Saat ini, Bulog tidak efektif melakukan intervensi pasar,” sesal alumni Politeknik Pertanian Universitas Negeri Jember ini blak-blakan.
Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Sadarestuwati mengatakan, anjloknya harga gabah di bawah ketentuan pemerintah itu disebabkan oleh ketidakmampuan petani menghasilkan padi berkualitas. Ia menyebut, dibanding daerah lain di Jawa Timur, kualitas padi dari Kabupaten Jombang sangat memprihatinkan.
Rumusan Masalah
1.Bagaimana terjadinya konflik sosial dalam HKTI di jombang dan mengapa bisa terjadi.
2. Apa yang menyebabkan konflik HKTI di jombang?
3. Apa tanggapan DPRD jombang?
Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini antara lain untuk memperkaya ilmu tentang gerakan HKTI(Himpunan Kerukunan Tani Indonesia) dan mencari pengalaman dalam pembelajaran Di suatu Gerakan Sosial.
Tujuan penelitian
Ingin mengetahui adanya konflik di dalam Organisasi HKTI,karena waaupun sudah dibentuk HKTI tetapi masi ada konflik di dalamnya.
BAB II
Teori Konflik
teori konflik yang menekankan pada keteraturan social, teori konflik melihat pada pertikaian dan konflik dalam sistem social. Teori konflik melihat apa pun keteraturan yang terdapat daam masyarakat berasal dari pemaksaan terhadap anggotanya oleh mereka yang berada di atas. Jadi lebih melihat pada peran kekuasaan dalam mempertahankan ketertiban dalam masyarakat.
Teori Konflik Coser
Konflik menurut teori Lewis A. Coser adalah perselisihan mengenai nilai-nilai atau tuntutan-tuntutan yang berkenaan dengan status kuasa dan sumber-sumber kekayaan yang persediaannya tidak mencukupi, di mana pihak-pihak yang sedang berselisih tidak hanya bermaksud untuk memperoleh barang yang diinginkan, melainkan juga memojokkan, merugikan atau menghancurkan lawan mereka. Dikatakan pula oleh Coser, bahwa perselisihan atau konflik dapat berlangsung antara individu dengan kumpulan-kumpulan (collectivities) atau antara individu-individu dengan kelompok.
Menurut Dahrendorf masyarakat disatukan oleh “ketidakbebasan yang dipaksakan”.Dengan demikian posisi tertentu dalam masyarakat mendelegasikan kekuasaan dan otoritas terhadap posisi yang lain. Hal ini mengarahkan Dahrendorf bahwa perbedaan otoritas selalu menjadi factor yang menentukan konflik social.
Bahwa berbagai posisi di dalam masyarakat mempunyai kualitas otoritas yang berbeda. Dan otoritas tidak terletak pada diri individu tetapi pada posisi. Otoritas dalam setiap asosiasi bersifat dikotomi, karena itu hanya ada dua kelompok konflik yang terbentuk yaitu kelompok pemegang otoritas dan kelompok subordinat yang mempunyai kepentingan tertentu.yang arah substansinya saling bertentangan.
Menurut penahapan konflik (fisher,2000)
tahapan konflik, dan dalam bahasan ini akan dikaitkan dengan strategiperlawanan petani. Pada tahap pertama, Prakonflik, terjadi ketidaksesuaian antara dua pihak yang berkonflik, dan muncul tidak senang serta emosi. Pada tahap ini, pihak yang tertindas diasumsikan masih mampu meredam perlawanannya,sehingga bentuk resistensinnya dapat berupa strategi perlawanan sehari-hari.
. Fisher(2000) menjelaskan tentang penahapan kasus konflik yangdiurutkan menjadi empat tahapan, yaitu:
a. Prakonflik : tahapawal terjadinya konflik, adanya ketidaksesuaian sasaran diantara pihak-pihakyang berkonflik, misalnya memunculkan sikap tidak senang dan emosi.
b. Konfrontasi :konflik semakin terbuka disertai aksi-aksi kekerasan tingkat rendah, misalnyamenyusun kekuatan.
c. Krisis : aksi-aksikekerasan meningkat menyerupai periode perang, misal menyandera.
d. Akibat : aksikekerasan menurun, ditandai oleh adanya negosiasi atau usaha untuk mengentikankonflik, misal satu pihak mundur akibat perlawanan yang tidak seimbang, tidakada negosiasi.
e. Pascakonflik :upaya pihak-pihak berkonflik untuk mengakhiri berbagai aksi kekerasan.
Teori strukturasi Giddens (1984) pada dasarnya merupakan bangunan kerangka ontologis dalam melakukan kajian-kajian terhadap tindakan-tindakan manusia, termasuk gerakan sosial. Teori ini menawarkan pemikiran tentang hakekat tindakan-tindakan manusia dan lembaga-lembaga sosial serta hubungan antara tindakan dengan lembaga-lembaga sosial. Dimunculkan konsep duality of structure (dualitas struktur) yang sekaligus merupakan kata kunci dan inti dari teori ini. Diyakini bahwa antara obyek dengan subyek, antara struktur dan agen bukanlah sebuah dualisme yang dikotomik, melainkan dualitas di mana antara satu dengan yang lain terdapat hubungan dialektik untuk kemudian saling mempengaruhi. Di dalamnya terdapat hubungan dialektik untuk proses produksi dan reproduksi dalam waktu yang sama.
Menurut Giddens, struktur berada pada posisi sebagai sebuah medium yang sekaligus juga outcomes (hasil) suatu agensi. Kemudian, struktur-struktur selain dapat muncul sebagai constraining, juga dapat mewujud sebagai enabling. Dalam pandangan Giddens, struktur dimaknakan sebagai generative rules and resources.
BAB IIIMETODE PENELITIAN
A.Sifat Penelitian
Penelitian ini bersifat kualitatif dan paradigma yang dipakai adalah paradigma gerakan sosial di jombang. Sifat kualitatif dari penelitian dikarenakan makna tentang hal yang diteliti hanya dapat didekati dengan mendengarkan dan memahami apa yang dikatakan dan dilakukan oleh subyekpenelitan.Pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini adalah pendekatan fenomenologis.
Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi, yakni peneliti berusaha memahami makna dari peristiwa atau fenomena yang terjadi dalam masyarakat dan suatu hal yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat. Untuk memahami apa dan bagaiamana suatu peristiwa tersebut dapat tumbuh dan berkembang dalam dunia sosial. Tujuan fenomenologi adalah untuk dapat mengambarkan perilaku-perilaku yang dilakukan oleh masyarakat dalam kehidupannya.
BWaktu dan Lokasi Penelitian
Waktu penelitian di jombang sekretariat HKTI pada bulan agustus-saat ini.
C.Subyek penelitian
Guncangnya Para petani karena anjloknya harga gabah.
D.Teknik Pengumpulan Data
1.Observasi
Dalam penelitian ini diperlukan observasi. Observasi adalah pengamatan yang dilakukan penelitian terhadap subjek penelitian. Dalam melakukan pengamatan dilapangan, akan didapatkan data yang mungkin diperoleh melalui wawancara. Dalam hal ini penelitian mencoba mengamati perilaku dari subjek. Penelitian baik secara individu ataupun pada saat mereka berkumpul di organisasi tersebut.
2.Wawancara Mendalam ( Indeepht Interview )Wawancara mendalam merupakan wawancara untuk mendapatkan data dan informasi yang diperlukan dalam suatu penelitian dan diharapkan bisa mengenai pada masalah yang akan diteliti agar memperoleh kedalam, kekayaan dan kompleksitas data.
Dalam memperoleh informasi yang dibutuhkan, peneliti menggunakan Guiding Question ( pedoman wawancara ) yang selalu dibawa pada saat mewawancarai subjek penelitian. langkah-langkah dalam melakukan In-depth interview, antara lain:
1.getting in, berupa adaptasi peneliti agar bisa diterima dengan baik oleh subyek penelitian.2.setelah trust terbentuk, peneliti harus menjaganya dengan berperilaku dan berpenampilan sama seperti subjek penelitian.Jika kedua hal tersebut dapat berjalan baik, maka akan tercipta rapport dari subjek penelitian, sehingga informasi-informasi dengan mudah diperoleh.3.agar lebih mudah mewawancarai subyek penelitian, peneliti akan mencari key informan atau informan kunci untuk memperoleh informasi. Dari key informan ini diharapkan akan diperoleh informan lain yang juga dapat memberikan informasi yang dibutuhkan peneliti (snawball sampling).
E. Teknik Analisis Data Analisis Data merupakan mengatur, mengorganisasikanya kedalam suatu pola, kategori dan satuan uraian data. Langkah pertama pengolahan data adalah data yang telah terkumpul baik data observasi maupun data wawancara kemudian dipisah menentukan data mana yang akan digunakan mengkategorikan data-data yang telah dipilah untuk digunakan dalam setiap bahasan,melakukan reduksi data, yaitu dengan membuat rangkuman dari hasil observasi dan wawancara.
Daftar Pustaka
Ekonomi Petani dan Negara Bangsa Redfield, Robert.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar